Sebuah narasi yang berkembang menyebutkan bahwa planet kita akan mengalami guncangan pada periode Juli-Agustus 2025, dengan rotasi Bumi yang diperkirakan memecahkan rekor kecepatan dan menghasilkan hari terpendek dalam sejarah. Meskipun klaim spesifik ini bersifat spekulatif, isu di baliknya menyoroti fenomena geofisika yang nyata dan berpotensi memicu tantangan signifikan bagi infrastruktur global yang sangat bergantung pada ketepatan waktu.
Bagi pengamat hubungan internasional, isu ini bukan sekadar anomali ilmiah, melainkan sebuah studi kasus tentang bagaimana fenomena alam dapat menguji sistem global yang telah mapan.
Tren Percepatan yang Tak Terduga Secara historis, rotasi Bumi cenderung melambat akibat tarikan gravitasi Bulan, yang mengharuskan penambahan “detik kabisat” (leap second) secara berkala sejak 1972 untuk menyelaraskan Waktu Atom Internasional (TAI) dengan waktu astronomis (UT1). Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para ilmuwan mengamati tren yang berlawanan: planet kita justru berputar lebih cepat. Pada 29 Juni 2022, Bumi mencatatkan hari terpendeknya sejak pengukuran waktu atom dimulai.
Percepatan ini didorong oleh berbagai faktor kompleks. Salah satunya adalah pencairan es di kutub. Analogi yang sering digunakan adalah seorang peseluncur es yang menarik tangannya ke dalam untuk berputar lebih cepat. Saat es di kutub mencair dan massa air mendekat ke ekuator, kecepatan rotasi Bumi sedikit meningkat. Faktor lain yang diduga berpengaruh termasuk aktivitas seismik, pergerakan magma di inti Bumi, dan fenomena osilasi yang dikenal sebagai “Chandler wobble”. Kompleksitas inilah yang membuat prediksi spesifik mengenai rekor baru pada Juli-Agustus 2025 sulit untuk diverifikasi secara ilmiah.
Implikasi Global: Ancaman Detik Kabisat Negatif
Inti dari permasalahan ini bagi sistem internasional adalah potensi diperlukannya detik kabisat negatif (negative leap second) untuk pertama kalinya dalam sejarah. Jika tren percepatan terus berlanjut, para ilmuwan di International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) mungkin harus mengurangi satu detik dari skala Waktu Universal Terkoordinasi (UTC) dunia. Prediksi saat ini mengarah pada kebutuhan ini sekitar tahun 2026, namun percepatan yang tidak menentu bisa memajukannya.
Keputusan ini memiliki implikasi besar. Sistem UTC adalah tulang punggung peradaban modern, menopang segala sesuatu mulai dari sistem navigasi satelit (GPS, GLONASS), pasar keuangan global, jaringan telekomunikasi, hingga sinkronisasi server internet. Sebagian besar sistem ini diprogram untuk menangani penambahan detik, bukan pengurangan.
Sebuah detik kabisat negatif berpotensi menyebabkan crash pada perangkat lunak, merusak data, dan mengganggu layanan vital yang melintasi batas negara. Para raksasa teknologi seperti Google dan Meta telah lama menyuarakan penolakan terhadap detik kabisat karena kompleksitas dan risikonya.
Daripada kebingungan, komunitas ilmiah dan teknis internasional kini berada dalam perdebatan aktif. Isu ini memaksa badan-badan penetap standar global untuk mempertimbangkan kembali masa depan UTC. Apakah dunia siap menghadapi pengurangan satu detik, atau haruskah definisi waktu itu sendiri yang diubah demi stabilitas sistem global? Fenomena ini menjadi pengingat bahwa di dunia yang saling terhubung, pergeseran sepersekian detik pada sumbu planet dapat menimbulkan riak yang dirasakan di seluruh jaringan peradaban manusia.
