Bumi mengalami salah satu fenomena astronomi tahunan yang menarik, yaitu aphelion. Istilah ini mungkin belum terlalu dikenal di kalangan masyarakat umum, namun peristiwa ini sesungguhnya terjadi secara rutin setiap tahun dan menjadi bagian dari dinamika alam semesta yang menakjubkan.
Aphelion adalah momen ketika Bumi berada di titik terjauh dari Matahari dalam orbit elipsnya. Berbeda dengan orbit bulat sempurna, orbit Bumi sebenarnya sedikit lonjong, sehingga jarak antara Bumi dan Matahari terus brubah sepanjang tahun. Dalam fenomena aphelion tahun ini, Bumi berada pada jarak sekitar 152.087.738 kilometer dari pusat Matahari, sekitar 2,5 juta kilometer lebih jauh dari jarak rata-rata yang biasa dikenal, yaitu 149,6 juta kilometer.
Fenomena ini terjadi tepatnya pada pukul 02.54 WIB, sebagaimana dilaporkan oleh sejumlah lembaga astronomi dan meteorologi, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Meskipun terjadi di luar angkasa, fenomena ini tidak dapat disaksikan secara langsung oleh mata telanjang, namun memiliki makna ilmiah yang penting dalam memahami gerak Bumi dan hubungan kita dengan Matahari sebagai sumber energi utama.
Banyak masyarakat yang mengaitkan fenomena aphelion dengan perubahan cuaca ekstrem, terutama suhu dingin yang kerap dirasakan di beberapa wilayah Indonesia, khususnya di dataran tinggi seperti Bandung, Dieng, atau Malang. Namun, BMKG menegaskan bahwa anggapan tersebut kurang tepat. Cuaca dingin di Indonesia pada bulan Juli bukan disebabkan oleh fenomena aphelion, melainkan oleh angin muson timur yang berasal dari benua Australia. Angin ini membawa udara kering dan dingin ke wilayah Indonesia bagian selatan, yang secara alami menyebabkan penurunan suhu di malam hingga pagi hari.
Dengan demikian, meskipun Bumi sedang berada pada titik terjauhnya dari Matahari, tidak ada dampak langsung yang signifikan terhadap suhu global maupun cuaca harian. Fenomena ini bersifat alami, rutin, dan tidak menimbulkan gangguan atau risiko apa pun bagi kehidupan di Bumi.
Sebagai informasi tambahan, kebalikan dari aphelion disebut sebagai perihelion, yaitu saat Bumi berada di titik terdekat dengan Matahari. Perihelion biasanya terjadi pada awal Januari setiap tahun, saat Bumi justru mengalami musim dingin di belahan bumi utara. Fakta ini sekaligus menegaskan bahwa musim dan cuaca lebih dipengaruhi oleh kemiringan sumbu rotasi Bumi, bukan jarak terhadap Matahari.
Dengan memahami fenomena aphelion secara ilmiah, masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan atau spekulatif. Sebaliknya, momen ini bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan minat terhadap sains, khususnya astronomi, yang sesungguhnya begitu dekat dengan kehidupan kita sehari-hari.
Jabar Erat
Itqan Peduli